BW, Elanor, dan Hidup Untuk Ingatan Di Masa Depan

Aku teringat betul, waktu itu sekitar jam 2 siang, di luar langit sangat cerah, waktu yang sempurna untuk tenggelam dalam angan-angan. Aku selalu menemukan kedamaian ketika berada di rumah dan ditambah dengan momen seperti ini, semuanya terasa nikmat. Jika kau menanyaiku tentang sebuah ide daydreaming terbaik tentu dengan senang hati aku akan membukukan suasana itu ke dalam sebuah tulisan untuk dijadikan referensi. Lamunanku tak pernah sedamai ini, namun dengan kecepatan yang di luar nalar, sebuah suara membangunkanku. Terdengar sangat jelas, jelas sekali suara itu, biasanya lirih, namun kali ini jernih sekali dan menggaung, “Sampai kapan?” katanya.

Aku kenal suara ini, “Elanor..” batinku dalam hati. Suara itu datang bersamaan dengan sebuah efek garis cepat yang menebas kepalaku dan sebuah tanda seru besar (Jika kau sulit membayangkannya, bayangkanlah sebuah adegan di anime beraliran komedi, seperti itu). Sebuah pengingat bahwa aku masih mempunyai janji yang berulangkali kuhindari.

Elanor adalah sosok yang sangat aku rindukan walaupun sebenarnya tak pernah kuinginkan. Ketika pertama kali nama ini terlintas dalam pikiranku, sebuah tawa mengejek timbul dalam gaung telingaku. “Terlalu berlebihan, mana mungkin orang seperti itu akan menjadi inti dari cerita ini.”. Namun, waktu ternyata membuktikan bahwa kita adalah orang yang mudah terbawa suasana. Elanor lahir dan terus berkembang, dia selalu membuatku terkejut dengan berbagai hal baru yang dia lakukan. Seakan aku belum mengenal penuh dirinya, padahal aku ini kan penciptanya.

Elanor bukanlah satu-satunya yang kuingat pada momen itu. Sudah cukup lama aku tidak menyentuh buah karyaku yang satunya lagi, Backstage Whisp. Jika kuhitung, sudah satu bulan penuh aku tidak memperbaharui apa yang ada di BW. Padahal apa sih yang kurang? Banyak orang yang sudah mulai mengenal BW, publisis internasional dari Hopeless Records pun sudah mengirimkan rilisan pers setiap kali mereka merilis sesuatu yang baru. Jika dipikir, itu benar-benar di luar dugaanku. Yah walaupun aku memang punya target untuk tahun ini, tak pernah kupikir bahwa label internasional sekelas Hopeless Records ternyata mengetahui keberadaan Backstage Whisp. Lalu apa yang terjadi?

Sejujurnya aku pun tidak tahu, selalu ada halangan seperti sebuah mantra yang menahanku untuk membuka halaman admin backstagewhisp.com. “Aku tidak ingin ke sana” kataku dalam lirih.

————————————————————————————

Beberapa bulan yang lalu aku menyelesaikan kuliahku di Universitas Indonesia. Kupikir setelah menyelesaikan bangku kuliah, aku bisa menyusun rencana dan mengeksekusi semua target yang sudah kupasang jauh-jauh hari dengan matang. Nyatanya tidak semudah itu, life sucks eh? Rasanya seperti berlomba dengan waktu, dikhianati oleh idealisme, dan tunduk dalam roda yang berputar. Aku masih ingat, beberapa minggu yang lalu depresiku menjadi-jadi. Dua hari aku tidak berani bertemu orang lain, terjebak dalam pertanyaan basi yang selalu berulang-ulang. Sampai akhirnya sebuah momen menghantamku dengan kerasnya.

Aku tidak mengenal diriku sendiri dan aku tidak tahu sedang melangkah kemana.

Aku tahu bahwa aku tidak sedang berjalan di tempat, aku selalu berjalan dari satu titik ke titik yang lain. Hanya saja, ada satu hal yang belum kupahami, sebenarnya kemana langkahku ini kubawa? Empat puluh tahun dari sekarang, apa yang akan kuingat dalam memoriku?

“Masih banyak yang bisa kita lakukan, mana yang akan kau pilih?” suara itu hadir kembali. Bukan, itu bukan Elanor, gaungnya berbeda, penekanannya berbeda, nadanya pun berbeda. Nada ini terlalu familiar, membawaku kepada masa satu tahun yang lalu. Aku mengenal betul suara ini, inilah suara yang sudah lama kukubur. Diriku yang lain, yang sudah kubunuh beberapa waktu yang lalu ternyata masih hidup.

“Kupikir aku sudah berhasil melakukannya, bergantung kepadamu itu menyebalkan tau.” kataku.

“Aku masih mengamatimu dari kejauhan, ternyata memang benar dugaanku.” katanya sambil tersenyum.

“Apa?”

“Kau tidak seharusnya membuangku.” jawabnya, “Kau pikir siapa yang memberikanmu nama Elanor jika bukan aku?” lanjutnya.

Aku termenung, sudah lama aku ingin membuangnya. Bagi orang lain mungkin ini gila, tapi bagi diriku, dia hidup. Tak ingin dianggap gila adalah salah satu alasanku untuk membunuhnya. “Aku ini orang normal dan kau bukanlah sesuatu yang normal.”, kata-kata itu menyembur dari ingatanku. Momen dimana aku memutuskan untuk mengakhiri dirinya, mengakhiri diriku yang lain, diriku yang selalu kudengar, memberikanku banyak pemahaman dan bahkan meyakinkanku bahwa aku jauh lebih baik dari apa yang kubayangkan . “Kau ini tidak nyata, kita hidup dalam realitas yang berbeda dan sekarang kau kembali lagi untuk membuatku bergantung kepadamu lagi.” kataku kepada suara itu.

“Tidak, tidak seperti itu, aku hanya ingin memberikanmu sebuah pemahaman baru.”.

Aku ingin menanggapinya, namun sebelum hal itu terucap ia sudah menambahkan, “Berhenti sejenak itu bukan sesuatu yang salah.”.

Menyebalkan memang, aku selalu merasa kalah setiap kali berdebat dengan dirinya. Barusan itu memang masuk akal, kalau dipikir aku ini terlalu memiliki banyak target yang ingin kucapai dan hal itu justru mengaburkan fokus yang sedang kubangun. Akhirnya? Yah justru aku tidak tahu mau melakukan apa, aku sudah mencapai titik jenuh dan berhenti selalu menjadi pilihan yang menyenangkan.

“Aku tau kau masih punya nasehat lagi kan?” kataku kepada diriku yang lain. Dia tersenyum, “Baguslah kalau kau sudah tau.” jawabnya.

Percakapan singkat itu membawaku kepada suatu resolusi baru dan itu melegakanku. Paling tidak aku tak harus berhenti sejenak, karena berhenti untuk beristirahat itu layaknya sebuah jerat bagiku yang tak bisa kulepaskan, lagipula aku belum punya penawarnya.

Elanor dan penduduk Genesis sudah lama menungguku, mereka merindukan pencipta mereka.

Berat memang, namun ada kalanya engkau harus berani memilih dalam kehidupan ini. Dalam kasusku sekarang, aku dihadapkan kepada dua pilihan, “Dunia yang kuciptakan” atau “Dunia nyata dimana aku adalah si pemberi komentar”?

Sebelum percakapan itu, semuanya masih abu-abu, tak tau mau kemana, namun ketergantunganku terhadap bayanganku ternyata masih tersisa. Bayanganku memberikanku kepastian atas hal yang selama ini kucari, dialah yang menjawab pertanyaan dari Elanor, “Sampai kapan?”.

Akhirnya..

Pembaca Backstage Whisp yang budiman, untuk sementara waktu aku tidak akan memperbaharui laman favorit kalian. Aku tidak tahu sampai kapan, mungkin mingguan, mungkin bulanan, mungkin tahunan. Untuk saat ini aku hanya bisa berkata, be right back!

Iklan

Depresi

Pagi tadi, daerah Kukusan Teknik digegerkan oleh sebuah berita tentang mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia yang tewas karena diduga bunuh diri. Mungkin berita ini biasa bagi sebagian orang, “Ya biasalah tiap hari juga ada orang yang meninggal.” banyak yang berempati, banyak pula yang terkejut walau hanya untuk sesaat saja. Saya sendiri setuju jika besarnya empati seseorang itu didasarkan pada kedekatan personal yang dimiliki. Tapi buat saya, kejadian tadi pagi seperti tamparan.

Memang saya nggak kenal langsung sih, tapi saya tau betul apa yang dialami orang tersebut sehingga memutuskan untuk mengakhiri hidup. For your information, saya pernah menderita anxiety yang luar biasa kronis di tahun awal saya kuliah di Universitas Indonesia, itu sekitar setahunan yang lalu. Di beberapa poin kehidupan, anxiety saya berubah menjadi suicidal thought. Saya memilih bungkam dengan kondisi saya karena pada dasarnya tidak akan ada yang mengerti dengan apa yang saya alami.

Palingan kalo saya cerita ke teman terdekat saya, yang mereka lakukan malah memberikan jawaban antipati seperti “Ya elah lebay banget, gitu doang.”. Saya seperti terjebak di sebuah situasi damned if I do , damned if I don’t. Sampai sekarang masih membekas bagaimana teror yang saya alami waktu itu. Salah satu momen paling kelam dalam kehidupan saya.

Sehingga ketika ada kejadian orang bunuh diri di dekat saya, saya langsung bisa merasakan bagaimana tekanan yang begitu luar biasa kuat yang dirasakan orang tersebut. I can totally relate to it and it hurts me inside. Banyak orang yang berkata begini, “Dia kurang iman makannya bunuh diri.” ada juga yang bilang “Kayak gitu aja bunuh diri, cemen banget.”.

Kenyataanya tidak semudah itu, ada orang yang terlahir dengan kondisi khusus dan itu bukanlah pilihan dia. Pada kasus orang yang mempunyai Obsessive Compulsive Disorder, mereka tak pernah punya pilihan untuk menghilangkan pikiran suicidal. Kita seperti terjebak di pasir hisap yang semakin kita lawan justru semakin kuat cengkeramannya, terdengar malang sekali bukan?

Sementara pada kasus lain untuk orang yang sedang mengalami depresi, bagi mereka, bunuh diri dianggap sebagai salah satu cara paling cepat untuk menyelesaikan masalahnya. Meskipun terlihat sepele, tapi saya kira tetap tidak ada pembenaran terhadap setiap penghakiman yang dilakukan. Kita tidak akan pernah tahu apa yang membuat seseorang untuk memilih tindakan senekat itu.

Biar saya ceritakan sesuatu, sesuatu yang masih belum banyak orang yang tahu. Bagi teman dan saudara saya, saya dikenal sebagai orang yang seperti tidak pernah punya beban. Well di luar memang keliatan seperti itu, walaupun hal ini tidak pernah berlaku untuk Ibu saya. Ibu saya adalah satu-satunya orang yang bisa langsung mengetahui perbedaan yang terjadi di diri saya, bahkan ketika saya sudah semakin mahir dalam menyembunyikan masalah yang saya hadapi.

Pernah di satu masa, serangan anxiety menyerang saya dengan begitu hebatnya, bahkan untuk bertemu orang lain saja saya takut. Saya menghabiskan seharian di tempat tidur, depresi, seperti terasing di kamar sendiri. Di saat yang bersamaan, pikiran saya dibanjiri dengan segala hal yang tak bisa saya kontrol. Ada perasaan takut, ingin menangis tapi tidak bisa, yang kemudian memuncak dengan sebuah obsesi untuk bunuh diri. Saya masih ingat, salah satu hal yang terlintas di pikiran saya waktu itu adalah “bunuh diri akan menjadi puncak kepuasan saya.”. Terdengar tidak waras memang, tapi bagi orang dengan OCD hal seperti itu biasa. Bahkan ketika berada di sebuah gedung yang tinggi, hal pertama yang terlintas di pikiran saya adalah loncat dari gedung itu. Beberapa kali hampir saya lakukan, untung tidak jadi.

Di samping suara transendetal yang saya dengar, salah satu hal yang membuat saya waras adalah ketika saya teringat dengan bayangan ibu saya. Saya tak bisa membayangkan bagaimana ibu saya nanti akan menangisi mayat saya, terlalu pedih untuk dibayangkan. Untungnya serangan anxiety berakhir di situ, saya langsung menangis sebagai bentuk katarsis untuk diri saya sendiri.

Salah satu bentuk OCD paling absurd yang pernah saya alami adalah, “Bunuh Tuhan, kau lebih besar.” Bagaimana tidak gila mempunyai pikiran yang seperti itu? 🙂 apalagi saya sedang berada pada fase menjadi pribadi fundamentalis pada waktu itu.

Hei mungkin ada sebuah gerakan transendental yang menggerakkan kalian secara tiba-tiba untuk membaca ini di saat kalian mengalami hal yang sama? Dengarkan saya, you’te not alone. Selalu ada orang yang sebenarnya peduli dengan kalian, walaupun orang tersebut tidak pandai dalam mengungkapkannya. Masih banyak juga lho kisah yang bisa kalian tulis, kalian ingin jadi orang yang tercatat dalam sejarah sebagai pemenang bukan?

Saya sendiri mungkin tidak mempunyai kapasitas untuk memberikan saran, tapi mungkin saya bisa bercerita bagaimana pada akhirnya saya bisa lepas dari hal ini. Salah satu bentuk pemulihan saya adalah dengan menulis, itu bagi saya adalah katarsis yang begitu hebat. Saya tidak menulis untuk membuat orang terkesan, tapi untuk mengeluarkan semua energi negatif yang ada di dalam diri saya. Hal yang perlu kalian ingat lagi adalah selalu ada orang yang akan menerima kalian bahkan dalam keadaan terburuk kalian. Jangan kecewakan orang tersebut, mereka itu adalah berkah yang tak boleh disia-siakan walau kamu belum tahu siapa saja mereka.

In the end, sediakanlah waktu untuk siapa saja yang ingin menumpahkan keluh kesahnya kepada kamu, itu akan sangat membantu mereka.

Ketika saya mengingat hal yang terjadi kepada saya setahunan yang lalu, saya sedikit getir, saya jelas tak ingin mengalami fase itu lagi. But then again, today I’m grateful. Paling tidak momen itu sudah terlewati, walaupun saya harus bertaruh hidup dan mati untuk melewatinya.

Remember this, you are so precious and nobody can take that away from you.

 

Kesempatan

Tepat sehari yang lalu, saya lagi jalan-jalan di pusat perbelanjaan daerah Depok, bukannya saya suka berbelanja atau apa tapi saya mesti beli kebutuhan bulanan. Katakanlah saya sudah selesai berbelanja waktu itu dan saya menuju eskalator untuk kemudian keluar dari mall tersebut. Di tengah perjalanan, tiba-tiba langkah kaki saya dihentikan oleh mbak-mbak yang meminta pertolongan dari saya. “Mas boleh minta tolong nggak? Sebentar saja.”. Digerakkan oleh rasa kasihan *halah* saya pun bilang, “Iya apa ya mbak?”. Jadi intinya mbak ini lagi training menjadi sales sebuah produk kesehatan dan meminta kesediaan waktu saya sebentar.

Saya pun menyanggupinya, sebagai orang yang belajar Manajemen, saya tau kalo nasib mbak ini bergantung kepada orang-orang seperti saya. Sebenernya pengen saya menceritakan detail-detail tertentu, tapi rasanya saya skip aja lah ya, biar itu jadi bahan pembicaraan buat saya dan teman-teman saya. Di akhir sesi, mbak-mbak tersebut menawarkan kepada saya untuk mengambil sebuah kupon yang isinya adalah hadiah sebagai wujud terima kasih. “Tapi nggak semuanya ada hadiahnya ya mas, bisa jadi BB.” saya ya nggak tau lah maksud BB yang dimaksud apaan, ternyata maksudnya adalah belum beruntung. Halah mencoba melawak ternyata dia, nice try.

Jadi saya langsung ambil tuh undian dan hasilnya bikin mbak-mbak dan semua mas-mas yang ada di ruangan tersebut terkejut dan sedikit bingung. “Dapet apaan mas? Bukan BB kan?”, saya langsung tunjukan aja kupon yang saya ambil. “Wah mas, dia dapet satu juta.” kata mbak itu ke mas-mas yang lain, “Yang bener? Seratus ribu kali.” saut mas yang lain. Saya cuman merhatiin aja gimik mereka dan rasanya mereka kaget sekali. Ya gimana nggak kaget, bayangin kalo saya mutusin buat ngambil tuh kupon terus nuker kupon itu buat beli barang kesehatan yang mereka tawarin, bisa nggak untung mereka. Harga barang 1,15 juta, sementara saya cuman harus bayar 150 ribu doang. Harusnya secara logika saya ambil tuh, soalnya kesempatan kayak gini jarang banget, tapi saya ambil keputusan buat nggak ngambil. Kenapa? Prinsip cuy.

Seperti yang saya alami di atas, yang namanya kesempatan itu emang dateng nggak pernah disangka-sangka. Ada yang datang waktu kalian siap, ada yang datang waktu kalian tidak siap. Dalam kasus saya, kesempatan buat dapet diskon 1 juta rupiah itu datang di saat yang nggak saya sangka-sangka dan saya nggak siap. Sebenernya bukan cuman itu doang sih alasannya, saya juga emang nggak terlalu butuh.

Nah saya si pemikir ini (self proclaimed obviously) langsung memikirkan hal ini. Sebenernya ini sesuatu yang sepele sih, tapi dalam pikiran saya yang ribet ini kadang saya suka meribetkan hal paling sepele sekalipun untuk mengetahui apa esensinya. Paling sering sih saya merenungkan kejadian apa yang saya alami hari ini dan kemudian menganalisanya buat bekal hari esok. Ini buat saya ritual yang nggak bisa buat nggak dilakukan, paling nggak saya jadi merasa menjadi orang yang lebih baik dari kemarin (ini self proclaimed lagi).

Mengenai kejadian yang saya ceritain di atas, saya memikirkan bagaimana jika kesempatan yang bakal ‘make you’ atau ‘break you’ datang dan saya berada di posisi tidak siap? Apa kesempatan itu bakal maklum dan memilih untuk datang lagi di lain hari ketika saya siap? Wah ini sulit, bisa saja saya melakukan pembenaran sendiri tapi jelas itu nggak bakal membantu apa-apa.

Jawaban sementara saya adalah kesempatan itu bisa datang sesuai diri kalian masing-masing. Tentu jawaban yang saya pikirkan ini belum finale, masih terbuka kemungkinan pengertian lain yang pasti bakal saya temukan besok. Jadi maksud saya adalah ketika kalian memutuskan bahwa kesempatan itu adalah kesempatan terakhir kalian, kalian bakal berjuang untuk memaksimalkan hasil akhir yang mungkin didapat.

“Kamu ngawur banget.” tangkis saya yang lain menanggapi ide saya tentang esensi kesempatan ini. “Ya biar aja lah, toh kalo gue terlalu bablas (bahasa Jawa dari kata kejauhan) lo juga yang bakal ngingetin gue.” saya yang sadar membalasnya demikian.

Maksud saya adalah ketika kalian menolak suatu kesempatan yang ada, saya percaya bahwa kesempatan itu nggak benar-benar tertutup kok. Dia tau diri kalo kita ini orangnya ya kayak gini, nggak cekatan, dia undur diri sementara waktu untuk kemudian datang lagi mendapati kita lebih siap. Ingat bahwa semesta itu bekerja dengan cara yang misterius dan saling bahu membahu agar tujuan akhir kita tercapai. Karena itu kalo kalian sekarang menyesal karena pernah menyia-nyiakan kesempatan yang dulu pernah kalian dapatkan, berhentilah meratapi diri kalian. Nggak ada gunanya.

Pegang kata-kata saya, kesempatan itu akan kembali lagi dan terus kembali lagi sampai kalian bilang, “Oke aku siap.”.

Kalian tau, saya saat ini sedang menertawakan diri saya sendiri karena saya ini suka sekali membuat tulisan sok nasehat padahal saya sendiri orangnya ya gitulah hahahaha.

Semua Adalah Pembelajaran

Hi, kali ini saya pengen bercerita lagi.

Jadi beberapa hari yang lalu, saya melakukan sebuah sesi interview bareng anak-anak Divide. Interviewnya seru banget dan waktu bener-bener nggak berasa sama sekali. Saya pun pulang interview dengan perasaan senang karena bakal dapat bahan yang bagus banget buat webiste. Alhasil walaupun capek, saya tetep optimis bakal menghasilkan sebuah tulisan yang cukup informatif dan lengkap.

Saya sebenernya pengen langsung ngerjain tuh interview, tapi berhubung saya Rabu malam mesti ke Jogja, akhirnya saya cuman mendengarkan ulang interview yang lamanya bisa sampai 1 jam 20 menit di kereta. Mulai tuh kebingungan saya dimulai, “Gue ini belum pernah ngecover interview sampai selama ini, mesti ngapain dulu ya?”. Ya wajar lah, walau bukan pertama kali, tapi saya biasanya melakukan interview melalui email maupun WA. Pernah sih melalui telepon, tapi nggak selama ini, paling cuman sekitar 20 menitan. Akhirnya saya pun mengikuti proses yang tidak efisien, intinya banyak waktu yang tidak saya gunakan secara tepat.

Sebagai cerita saja, proses penulisan laporan interview yang saya lakukan, sistematikanya adalah seperti ini:

  1. Mendengarkan rekaman
  2. Menulis poin penting
  3. Menulis cerita
  4. Menulis ulang pembicaraan
    3 dan 4 bisa dibalik, tergantung mood.

Terdengar sangat tidak efisien kan? Ya saya pun baru sadar tentang itu tadi pagi. “Kok kerasanya capek banget ya? Dan kayak progressnya berjalan lambat banget.”. Saya merasa maklum terhadap diri saya sendiri, karena memang ini interview yang sangat panjang banget dan tentu membutuhkan teknik penyelesaian yang berbeda juga.

Sebelumnya, saya memang terbiasa menggunakan teknik tersebut, tapi dengan catatan bahwa selama ini interview yang saya lakukan hanyalah dengan satu orang saja dan itupun dilakukan dalam waktu yang tidak terlalu lama. Ketika saya dihadapkan dengan 6 orang sekaligus dan ada sekitar 1 jam 20 menit atau sekitar 5000+ kata/poin yang mesti saya cover, saya pun keteteran. “Gila, ini berat banget buat gue.” keluh saya yang waktu itu masih belum sadar dengan kesalahan saya dalam melakukan penulisan laporan interview.

Saya sih nggak kesel atau gimana ya, karena sejak dulu saya tau kalo “Everything happens for a reason, either blessing or lesson.” Yah saya anggap ini sebagai pembelajaran saya sendiri bahwa ternyata perlu teknik khusus dalam melakukan sesuatu. Saya juga menyadari bahwa apa yang cocok buat satu hal belum tentu cocok buat yang lain, begitupun dengan apa yang cocok dengan saya belum tentu cocok untuk kalian juga. Karena itu pesan saya adalah jangan takut untuk mencoba, apapun hasilnya pasti ada pelajaran berguna yang bisa kamu petik.

Saya kok jadi merasa beberapa hari ini saya sering sok ngasih nasehat gitu ya? “Sotoy lo tin, umur masih berapa aja sok ngasih nasehat.” diri saya yang lain menghardik saya.

Oke maafkan kalo begitu.

Oh ya untuk tulisannya, bisa langsung kalian baca di Backstage Whisp *tetep promosi*

Bersyukurlah

Saat ini saya sedang berada di dalam sebuah kereta yang berjalan cepat menuju Yogyakarta. Mungkin kalo kalimat tersebut saya akhiri detik ini juga, nggak bakal ada sesuatu yang berkesan, tapi saya pengen cerita nih tentang apa yang baru saja saya alami.

Oh ya, sebagai informasi, tadi sore kereta commuter line yang tengah melintas di sekitar Manggarai ternyata anjlok dan sialnya saya nggak tau berita tentang itu. Alhasil saya tetep pede berangkat ke stasiun Universitas Indonesia buat menuju ke Stasiun Pasar Senen. Kalo dibandingin dengan alternatif transportasi lainnya, buat ke Stasiun Pasar Senen emang paling enak naik KRL, selain murah juga nggak perlu tuh pindah-pindah moda. Kamu tinggal duduk aja, kalo dapet tempat duduk, ya intinya kamu tinggal anteng aja deh pasti sampe Pasar Senen.

Sialnya, saya nggak ngecek berita sama sekali sore tadi. Ya gimana mau ngecek berita, saya biasanya kalo sudah excited buat pulang, ujian pun nggak dipikir apalagi cuman ngecek Detik News (walau paling update, tapi isinya nggak ada mutunya sama sekali). Dari awal saya sudah tau dan sudah buat semacam jadwal bayangan tentang apa yang mesti saya lakukan hari Rabu ini. Saya sampai kost sekitar pukul 10 pagi, sebelumnya saya menginap di tempat Ikram karena malam sebelumnya saya melakukan interview yang menyenangkan dengan anak-anak dari Divide. Eh tau-tau udah jam setengah 1 pagi, “Gila, nggak kerasa banget ya emang kalo ngobrol hal-hal seru kayak gitu.” batin saya melihat jam.

Begitu nyampe kost, saya sudah tau mesti ngapain. Pokoknya intinya saya mesti cabut ke stasiun jam 4, biar nggak terlalu tergesa-gesa atau istilah yang paling sering dipake ibu saya, kemrungsung . Waktu nyampe stasiun ternyata sedikit molor, gara-gara saya mesti antri ATM, tapi mungkin di sinilah berkah yang nggak pernah saya sangka-sangka. Nyampe stasiun, nggak keliatan sama sekali kalo ada masalah. “Eh tungguin gue woy.” saya cuman bisa melongo melihat kereta saya buat ke Senen jalan. Saya ketinggalan kereta cuman sekian detik, tapi saya santai sih toh ini KRL, kalian nggak perlu nunggu lama buat nunggu kereta berikutnya. Akhirnya ada kereta yang dateng juga, tapi kali kereta tujuan Jakarta Kota yang dateng.

“Kok kayaknya ada yang nggak beres ya? Shit, lama banget nunggu penumpang.”. Saya gelisah, bukan gelisah gara-gara seperti saya sudah tau ada kereta anjlok di Manggarai tapi gelisah gara-gara kereta yang di depan saya ini cuman diem aja, padahal semua penumpang sudah naik. Kalo gini, kereta tujuan Senen berikutnya nggak bakal dateng-dateng ini. Pengen banget, saya teriak “Woy buruan napa, keburu nih gue!” tapi tentu saya cuman batin aja, saya ini kan cuman gede niatnya aja. Akhirnya setelah hampir 10 menitan gitu, saya cabut deh. Saya tanya tu ke petugasnya, “Pak kok nggak berangkat-berangkat ya? Ada masalah emang?” saya langsung merasa bodo sendiri. “Woy Tin, bahasa lu kayak orang ngajak berantem.” saya langsung anyep. Untungnya bapak yang saya tanyain itu nggak mikir sampe segitu, mungkin gara-gara muka saya emang nggak nunjuin ekspresi apa-apa. Datar.

Akhirnya tuh bapak jelasin kenapa kereta yang di hadapan saya ini nggak jalan-jalan, “Damn, gue mesti cari cara lain.” akhirnya saya dengan insting saya membuka aplikasi Grab Bike dan ngorder ojek buat nyampe Stasiun Senen. Nggak pake lama sih, paling 5 menitan doang tuh abang driver yang mau nganterin saya dateng. Akhirnya tanpa basa-basi, saya langsung bilang “Iya” aja ketika abang driver itu nanya nama saya dan tujuan saya. “Mas, buru-buru nggak?” tanya abang rider itu,  “Iya bang, kira-kira berapa lama ya nyampe Senen?”. “Ya sejam-an lah mas.” saya langsung ngecek jam di tangan saya, terus tanpa ragu bilang, “Oke aman.”.

Waktu di jalan, seperti biasa kalian tau sendiri lah jalanan Jakarta gimana, apalagi jalanan di sekitaran Lenteng Agung sama Pancoran. Saya pikir, si Komo yang sering ngacau lalu lintas aja mungkin nggak bakal sudi buat nginjakin kaki di sini. Lha gimana belum nginjakin kaki aja udah macet nggak ketulungan, belum lagi dia mesti mikir gimana caranya buat motong laju motor-motor yang kecepatannya seperti sedang nahan boker, insting pembalap coy.

Di tengah perjalanan itu, saya, orang yang menganggap dirinya sebagai pemikir ini, terus memikirkan kejadian tadi. “Wah coba kalo tadi ATM nggak antri ya? Pasti gue udah naik tuh KRL yang tadi, akhirnya gue kejebak deh di dalem kereta.” kalo kebeneran terjadi jelas nggak bakal ada tuh tulisan ini dan yang jelas nggak bakal ada tuh cerita sombong saya kepada sesama teman perantau, “Eh gue di Jogja lho.”.

Saya memang bukan orang yang relijius (lagi), tapi saya selalu percaya bahwa seluruh keteraturan di alam semesta ini ada yang mengatur. Saya jadi merasa bahwa ada kalanya saya perlu bersyukur, di tengah segala pembangkangan yang saya lakukan ternyata saya masih sering diberi jalan yang mudah. Kalau kau tau, saya ini hampir tiap hari menantang Tuhan. Bukan, bukan menantang mengajak berkelahi, tapi lebih kepada ketidaksetujuan atas deskripsi Dia menurut para ahli kitab. “Bodo amat mau dibilang bidat juga.” enggak ding, saya nggak se-seperti itu kok. Tapi saya jujur tentang ini.

Di tengah perasaan bungah saya, tiba-tiba saya liat jam dan Google Maps. “Mantab, nggak ada yang bakal menghalangi saya buat dateng awal nyampe stasiun.” batin saya. Dalam perjalanan, kok capek juga ya mana kok ini kayaknya nggak jalan-jalan ya depan. Perkiraan waktu yang semula hanya menunjukkan sekitar 30 menitan di peta ternyata bertambah jadi 40 menit, lalu 50 menit. Dalam kecepatan seperti ini, mustahil bagi saya untuk sampai tepat waktu.

Janji 1 jam sampai itu akhirnya bertambah menjadi 2 jam, “Welcome to Jakarta, Martin.” mungkin jika saya bisa mendengar alam berbicara, inilah yang bakal mereka katakan. Harapan saya supaya sampai awal, jauh dari kenyataan, saya sudah nggak peduli lagi saat itu. Bahkan saya sudah berusaha ikhlas kalo akhirnya nggak jadi pulang ke Jogja. “Ya sudah deh, mungkin gue emang harus di Depok akhir pekan ini.”.

Tapi di tengah sedikit keputusasaan saya, abang driver ini seperti memberi saya sebuah harapan. Dengan lincah dia kendalikan motornya dan hanya dengan sekali hentakan, kita sudah melaju di sebuah jalan yang tidak padat lagi dalam kecepatan yang 3 kali lebih cepat dari sebelumnya. Sebuah tanda, saya menangkap hal tersebut, tanda bahwa memang semesta saling bahu membahu untuk menyelesaikan suatu hal. Tanda bahwa semesta ikut bersemarak dengan segala tindak tandukmu. Tanda bahwa semesta selalu ingin ikut campur dalam hal terkecil sekalipun.

Singkat cerita, saya sampai tuh di stasiun. Saya apresiasi abang driver yang mengantarkan saya tadi, “Bang kembalian simpen aja ya.”. Padahal kalimat saya itu simpel banget lho, tapi ekspresi abang tadi seperti sedang dipuji. Saya kira, setiap pengemudi motor di Jakarta perlu diberi apresiasi, memang kadang mereka brengsek, nggak mau ngalah, seenaknya sendiri, primitif, etika nol. Tapi itu jelas nggak bisa digeneralisasi, paling nggak masih ada pengemudi seperti abang tadi yang jarang mengeluh dan (untungnya) tetep taat aturan, walaupun mungkin aja dia dikit-dikit bilang “Woy anjing lo” dalam hati, tapi paling nggak hal itu nggak diucapin dan nggak nyakitin orang lain.

Lucunya, waktu saya sampai di stasiun Senen itu hanya beberapa menit dari jadwal yang sudah ditentukan. Saya jadi mikir, “Kenapa mesti dibuat mepet ya?” Mungkin memang si Penguasa itu Pribadi yang suka bercanda dan suka ngasih kejutan kali ya? Wah kalo memang seperti itu, tentu bakal asik sekali saat nanti bertatap muka langsung.

Maksud saya padahal pengen bikin kata-kata bijaksana lho, tapi jadinya kayak gini. Ya sudahlah, intinya jangan lupa bersyukur. Dari yang saya tangkep di kejadian tadi, kejadian sekecil apapun bisa bikin kacau atau bisa jadi berkah. Coba kalo tadi saya nggak antri ATM, saya naik KRL, kelar deh mimpi saya buat menghabiskan sisa minggu ini di Jogja. “Tin, kurangin ngumpat kenapa.” seloroh saya yang lain, “Oke” diri saya yang sedang menulis ini mengiyakan saja saran itu, biar nggak perlu berkontemplasi lebih jauh lagi maksudnya.

Akhir kata, bersyukurlah!

Malas

Tulisan ini adalah bentuk ekspresi saya dalam merayakan sebuah hal yang setiap hari saya geluti, yaitu bermalas-malasan. Saya pernah menulis melalui akun Twitter saya kira-kira begini, “Rasa malas itu emang keparat. Mau ditolak sayang, mau diikuti jadinya rugi sendiri.” Saya baru saja manggut-manggut saja membaca tweet saya yang satu itu. Entah saya lagi halusinasi atau teler waktu menulis tweet itu, tapi saya baru ingat “Lah saya kan nggak pernah teler, saya ini sober kid.” Halah.

Jadi memang saya akui rasa malas ini salah satu hal yang paling sulit buat saya taklukan. Seorang teman pernah memberi saran, “Tin, coba lebih sibuk lagi deh, cari kegiatan lain di luar.” saya cuman ngiyain aja. Tapi setelah saya pikir-pikir, itu saran kok kayak nggak masuk akal ya. Bukannya akar masalah itu adalah kemalasan itu sendiri, kok malah disuruh cari kegiatan yang banyak. “Untung gue masih bisa berpikir logis.” ujar saya seakan sudah mengakali teman saya waktu saya mengiyakan saran teman saya itu.

Malas itu memang bedebah, bukan lagi keparat. Dia adalah hal yang teramat saya benci tapi juga tak bisa saya lepaskan begitu saja. Mungkin karena saya ini sudah terlalu lama kenal dengan “malas” ini, jadinya mau dilepasin begitu saja susah. Mungkin kalau hari ini saya mempunyai tekat yang kuat untuk mengucapkan selamat tinggal kepada “malas”, besok pagi saya akan bangun dengan perasaan gelisah karena harus mencari “malas” yang senantiasa menemani saya setiap saya bangun pagi *bermalas-malasan*. Mungkin saya sudah merasa nyaman dengan “malas”? Ah tau dah.

Tapi untungnya saya sering merenung buat masalah ini sampai suatu saat saya menemukan sebuah titik terang, bagaimana seharusnya saya menyikapi “malas”. “Jadi Tin, intinya rasa malas itu memang sangat susah untuk dihilangkan. Tapi kamu bisa kendalikan kadarnya.” Saya barusan ngomong sama diri saya sendiri tentang bagaimana mengendalikan dia. “Lah gimana caranya?” sontak saya. “Gampang, kamu tinggal punya niat yang kuat saja. Kalo rasa malas itu datang, lihat kembali apa yang sudah kamu kerjakan sebelumnya, lalu lihat kamu sekarang.” balas saya lagi.

Seperti mendapatkan sebuah ide yang cemerlang, saya pun membuka draft tulisan saya yang tersimpan rapi di sebuah folder komputer. “Banyak juga” batin saya. Saya mulai membuka tulisan yang saya tulis itu satu-satu dan tanpa terkontrol sebuah senyum sudah mengembang di bibir saya. “Oh jadi itu maksudnya.”. Ada semacam reward yang luar biasa ketika saya mulai membaca tulisan-tulisan lama saya. Saya seperti dibawa ke mesin waktu, semua emosi dan kejadian seperti langsung terputar dengan baik di otak saya.

Rasa malas itu seperti sebuah akar belukar yang menghalangi kamu buat menemukan sebuah danau indah di tengah hutan. Dia begitu mengerikannya, sehingga untuk menyentuhnya saja kadang-kadang kamu enggan. Tapi dia tidak pernah berbohong, di balik tipu muslihat yang dia rencanakan, dia sangat konsisten akan satu hal. Dia menyembunyikan sebuah hadiah yang sangat bernilai. Nilainya tidak akan pernah kau hitung, tapi percayalah jika nilainya sangat sepadan dengan usaha yang kau keluarkan.

“Shit, gue malah jadi kayak Mario Teguh.” saya yang lain segera mengingatkan diri saya untuk jangan menjadi seperti beliau. Bukan masalah apa-apa sih, Mario Teguh itu keren, sangat menginspirasi, tapi saya nggak mau jadi beliau…

Oke intinya gitu deh.

Kenapa Harus Tumblr?

Suasana di kamar kost sudah mulai menguning, pertanda matahari sudah tak malu-malu lagi dalam menampakkan diri. Jangan dipikir ini adalah suasana saat saya sedang bangun, saya selalu bangun pagi hanya kadang saya terlalu mengasihi diri sehingga saya membiarkan tubuh ini terlelap kembali.

Seperti biasa, jam sepagi itu lini masa Twitter pasti sudah ramai dengan berbagai aktivitas. Ada yang jualan, ada yang sedang berusaha mem-branding diri, ada yang melawak, ada juga yang sudah sibuk nyinyir. Saya sendiri memang lebih menyukai Twitter ketimbang sosial media yang lainnya. Alasan saya sih simpel, hampir semua hiburan, pengetahuan, sampai berita bisa ditemukan di sini.

Seperti biasa pula tangan saya dengan lincahnya menggesek-gesek ipod untuk melihat apa saja yang terjadi di Twitter selama ini, sampai akhirnya pandangan saya tertarik kepada sebuah headline yang mengatakan bahwa Menkominfo akan melakukan pemblokiran terhadap Tumblr. “Ha? Bagaimana bisa?” batin saya, masih tidak percaya dengan yang saya baca. Mental membangkang saya kemudian semakin dibuat panas ketika saya membaca sebuah alasan yang menurut saya benar-benar tidak masuk akal. “Tumblr akan diblokir karena konten porno”.

Masih belum sempat mengambil nafas panjang, hujam umpatan maupun hardikan sudah bersiap untuk saya semburkan. Untung saya masih bisa mengontrol diri. Toh apapun yang saya ucapkan di kamar kost pagi itu tidak akan merubah apa-apa, jadi lebih baik saya diam dan mencoba mencerna permasalahan dengan lebih baik sambil memikirkan mau sarapan apa pagi itu.

Sebagai orang yang suka menulis di Tumblr tentu saya bakal pasang badan ketika lembaga pemerintahan berusaha memblokir situs tempat curhatan saya karena alasan yang tidak-tidak. Siapa juga yang mau cari konten porno di Tumblr, memang ada orang yang mempunyai niatan seperti itu? Perasaan selama saya bermain Tumblr selama bertahun-tahun, belum pernah saya memiliki niatan untuk mencari konten yang tidak-tidak di sini.

Syukurlah, rencana Menkominfo tersebut akhirnya batal karena menghadapi gelombang protes netizen yang gencar dalam melakukan penolakan. Saya yang tidak ikut berjuang akhirnya ikut menikmati tuaian dari apa yang mereka tabur. Kalian keren, Tumblr Indo.

Kenapa harus Tumblr? Bukankah ada WordPress, Blogspot, dan yang lain? Entah, mungkin karena memang sejak awal saya sudah menulis di Tumblr. Jadi karena alasan itu, sayang rasanya jika harus memulai blog yang baru. Belum lagi di Tumblr terdapat fitur yang benar-benar saya suka, “Ask Me Anything”.

Tanya saja apapun yang kalian mau, saya suka sekali membalasnya baik dalam nada candaan ataupun serius.

Tumblr mencatat perjalanan hidup saya dari yang seorang wannabe punker, free thinker, fundamentalis, dan akhirnya menjadi progressive liberal seperti sekarang ini.

Semoga tidak ada lagi niatan yang tidak-tidak dari Menkominfo seperti yang telah terjadi kemarin-kemarin. Apalagi jangan sampai besok ada wacana untuk menutup Tumblr dengan headline, “Tumblr Akan Diblokir, Membuat Remaja Indonesia Menjadi Emo” karena banyak sekali orang seperti saya yang suka curhat di sini.

Lalu saya sadar bahwa sebenernya saya sendiri belum menjawab pertanyaan saya sendiri, kenapa harus Tumblr? Mencoba mengimitasi gaya bahasa remaja Amerika ketika mengungkapkan ekpresi kecintaan mereka terhadap sesuatu hal, saya ingin mengucapkan hal yang sama, “Tumblr adalah cinta, Tumblr adalah kehidupan.”.

Selang beberapa menit setelah berkata demikian, saya lalu berfikir, “Saya akan membuat WordPress dan memindahkan semua konten Tumblr saya ke sana.”.